Home » , » Bukit Menumbing Saksi Sejarah Bangsa Indonesia

Bukit Menumbing Saksi Sejarah Bangsa Indonesia


Bukit Menumbing berada di puncak gunung Menumbing, di Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia.
Wisma Menumbing merupakan salah satu tempat yang menjadi rumah pengasingan Ir. Soekarno (Presiden RI Pertama) dalam perjuangan perintis kemerdekaan pada masa penjajahan Belanda. Wisma menumbing berada di puncak Gunung Menumbing dengan pemandangan yang indah dan cuaca yang sejuk.

Menumbing, Menelanjangi Sejarah Bung Karno 

Kota penyimpan seribu cerita sejarah. Kalimat yang memang pantas disandang oleh Pulau Bangka. Selama saya dan rekan petualang mengunjungi pulau ini, kami sudah mengunjungi banyak situs sejarah. Situs-situs itu antara lain Tugu Proklamator, Kherkof (Makam Belanda), Museum Timah, Perigi Pekasam (lubang buaya versi Bangka), dan yang paling banyak menyimpan sejarah kelam para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam.

Tepat di buan februari , saya dan rekan #kelasblogger berpetualang bergerak menuju Bukit Menumbing. Letaknya 15 km dari kota Muntok, kalau dari Pangkalpinang bisa menghabiskan waktu sekitar 3 jam perjalanan.

Penjaga Pesanggrahan Menumbing menyambut dengan hangat ketika kami sampai di pintu masuk gedung yang sudah dibangun sejak tahun 1928. Ia membawa saya dan rekan mengelilingi semua ruangan. Tepat di sebelah ruang tamu, ada aula terbuka dengan beberapa meja dan kursi yang tertata rapi. Di dekatnya, anda bisa melihat mobil tua yang dipakai Bung Hatta selama diasingkan di Menumbing. "Aula ini tadinya adalah penjara untuk para proklamator kita. Setelah mereka dibebaskan dan diasingkan ke tempat lain, sel penjara ini dibuka dan dijadikan tempat sidang para tentara Belanda." tutur Mas Sutejo sambil menunjukkan garis di lantai yang merupakan batas sel penjara.

Pada jaman Agresi Militer Belanda, para pahlawan proklamator yang diasingkan ke tempat ini terbagi menjadi 3 rombongan. Bung Karno dan Bung Hatta diasingkan dalam rombongan yang berbeda. Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri dan menteri pertahanan masuk dalam rombongan pertama bersama A.G. Pringgodigdo (Sekretaris Negara), Assaat (Ketua Badan KNIPP), dan Suryadarma (KSAU). Mereka dibawa langsung oleh tentara Belanda dari Yogyakarta tanggal 22 Desember 1948.

Bung Karno bersama H. Agus Salim (Menteri Luar Negeri) termasuk dalam rombongan ketiga yang sampai Bangka pada tanggal 6 Februari 1949. Pemindahan beliau dari Sumatera Utara (dekat Danau Toba) merupakan permintaan dari Bung Karno sendiri. Alasannya pada saat itu adalah agar mudah berkonsultasi dengan Bung Hatta. Namun pada akhirnya, Bung Karno meminta dipindahkan lagi ke Wisma Ranggam yang terletak di bawah Bukit Menumbing karena faktor cuaca yang terlalu dingin.

Semua sejarah tentang pengasingan ini bisa anda baca dari surat-surat dan foto-foto yang terbingkai di ruang kerja Bung Karno. Mulai dari tulisan Ali Sastroamidjojo untuk Bung Hatta, foto-foto pemimpin bangsa Indonesia yang pernah diasingkan di Pulau Bangka, dan juga tulisan-tulisan tentang kontribusi terhadap pembangunan di Bangka yang sudah mereka lakukan selama di Menumbing.

Sayangnya, setelah selesai menyusuri kamar Bung Karno dan Bung Hatta, kami menuruni Bukit Menumbing dan hanya sempat mengabadikan Wisma Ranggam menjelang gelap menjemput. Agar tak ketinggalan banyak situs sejarah lainnya, kami sarankan anda yang ingin napak tilas ke tempat pengasingan Bung Karno ini pergi sekitar jam 6 atau jam 7 pagi. Hati-hati ketika sudah sampai di daerah perbukitannya karena jalanan hanya satu arah. Koordinasikan dengan satpam yang menjaga untuk mengetahi apakah ada mobil yang sedang turun atau naik.

Perjalanan hari ini sungguh luar biasa. Belajar dan menulis tentang sejarah dari tempatnya langsung membuat saya bisa mengingatnya sampai kapanpun. Sebenarnya masih banyak cerita menarik seputar Pesanggrahan Menumbing ini

 Pesanggrahan Menumbing, yang dibangun sekitar tahun 1928-1930, memang memiliki pesona yang sangat indah. Selain dikarenakan sejarahnya, sebagai tempat pengasingan proklamator RI dan sejumlah pemimpin yang tertawan usai Agresi Militer Belanda II, pesanggrahan ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.

"Bangunan pesanggrahan langsung menghadap Selat Bangka dengan hamparan laut yang indah. Suasananya yang asri juga menambah pemandangan indah itu," Wah pengalaman yg luar bisa bisa berkunjung.

0 komentar:

Post a Comment