Home » » Nomophobia, Phobia Karena Tidak Pegang Smartphone, Makin Meluas ke Seluruh Dunia

Nomophobia, Phobia Karena Tidak Pegang Smartphone, Makin Meluas ke Seluruh Dunia

Pernahkan Anda resah ketika meninggalkan rumah dalam keadaan lampu menyala? Sebagian besar dari Anda mungkin akan menjawab tidak, karena bisa dimatikan nanti setelah pulang. Tetapi sangat resahkah Anda ketika mengetahui bahwa smartphone ketinggalan di rumah? Perasaan takut pun akan menghantui, mulai dari tidak bisa update ke jejaring sosial, ketinggalan obrolan di grup chat, memotret momen-momen kebersamaan bersama teman-teman, atau tidak bisa memainkan game kesukaan Anda.
Bila Anda merasakannya, selamat, Anda termasuk sebagai penderita nomophobia. Ya, itu adalah nama phobia baru bagi mereka yang merasakan kekhawatiran atau ketakutan karena tidak adanya smartphone di genggaman tangannya dan tidak bisa update informasi-informasi terbaru, baik dari teman maupun media online. Ketakutan ini tidak hanya karena smartphone ketinggalan di rumah saja, tetapi juga saat kapasitas baterai tinggal 5%, atau ketika kuota data sudah hampir habis.

Menurut sebuah penelitian, phobia karena tidak menggenggam atau tidak bisa menggunakan smartphone ini telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Berdasarkan survei, Versapak menyebutkan bahwa sekitar 41% orang-orang Inggris merasa tidak nyaman ketika jauh dari perangkat tercinta mereka, sementara 51% lainnya dianggap menderita "ketidaknyamanan yang sangat ekstrim" karena pengaruh produk teknologi ini. Menurut Leon Edwards, peneliti di Versapak, hilangnya hubungan dengan teknoogi bisa meningkatkan stress karena takut ketinggalan berbagai informasi.

Survei lain dari SecurEnvoy mengabarkan, penderita nomophia sebagian besar dialami oleh para wanita dengan angka 70%, sementara untuk kaum pria jumlahnya adalah 61%. Ketagihan smartphone bahkan mungkin bisa disejajarkan dengan ketagihan merokok. Hal ini bisa dilihat dengan larangan-larangan penggunaan smartphone di beberapa tempat, seperti di bioskop, di pinggir-pinggir jalan sebagai rambu larangan mengemudi sambil mengaktifkan smartphone, atau di SPBU.

Pengobatan terbaik untuk gejala nomophobia ini adalah Anda sendiri. Menghentikan kecanduan smartphone itu sama seperti berhenti merokok, yaitu dari kemauan yang keras. Berlatihlah untuk tidak menggantungkan hidup kepada smartphone. Letakkan smartphone saat sedang bersama teman-teman atau keluarga. Jadikan smartphone sebagai alat, bukan sebagai pendamping hidup yang harus ada di mana pun Anda berada. Sesekali, acuhkanlah notifikasi-notifikasi dan rasakan bahwa dunia akan semakin indah tanpa harus memandang layar smartphone setiap detik.

0 komentar:

Post a Comment